berjalannya
Waktu
Kota
Lama adalah salah satu kawasan wisata di daerah Semarang yang dulunya menjadi
pusat perdagangan pada abad ke 19. Kota Lama termasuk salah satu daftar tempat
wisata yang wajib kita kunjungi jika berwisata ke Semarang. Terletak di ujung
Utara kota Semarang, tepatnya di Jalan Letjend
Suprapto 50121 Semarang, telah ratusan tahun berdiri bangunan – bangunan
tua megah nan kokoh peninggalan kolonial Belanda. Sekilas jika kita lihat kota
ini, dan merasakan bangunan yang ada disana seolah – olah kita sedang berada di
negeri Eropa. Mungkin benar kata orang menyebut Kota Lama ini sebagai “Little
Netherland”.
Konon
bangunan yang terdapat di Kota Lama, di bangun pada abad ke – 18, ketika masa
pemerintahan Hindia Belanda. Saat kita memasuki Kota Lama banyak gedung –
gedung yang di jadikan pusat industri, diantaranya pabrik rokok Praoe Lajar, PT Telkom, Kantor Pos, dan yang tidak kalah menarik adalah kantor
asuransi Jiwa Sraya, yang bangunnya
masih terawat dan terlihat eksotis, terletak di pinggir jalan Kota Lama tepatnya di depan Gereja
Blenduk.
Kantor yang saat ini ditempati oleh PT. Jiwasraya
Semarang merupakan bekas gedung Nederlandsch Indische Leven Sverzeking De
Lifrente Maatschaapij (NILLMI) yang dibangun dengan arsiteknya bernama Thomas pada
tahun 1916. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai kantor Balaikota Semarang
pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Jika
kita lihat sekilas gedung Jiwa Sraya ini bukan menghadap lurus ke arah jalan
raya, namun serong menghadap Taman Srigunting dan Gereja Belenduk. Tujuan dari
dibentuknya menghadap serong adalah karena zaman dahulu gedung ini berfungsi
sebagai balai kota, sehingga dihadapkan serong untuk memudahkan memantau
keadaan Taman Srigunting dan Gereja Belenduk.
Tidak
sulit untuk menuju ke Kota Lama ini, jika kita dari arah timur, di Terminal
Terboyo Semarang langsung saja lurus menuju Jalan Raden Patah melewati
perempatan maju sedikit, kita sudah sampai di Kota Lama. Apabila kita dari arah
selatan, ketika melewati Banyumanik kemudian menuju Peterongan ke Jalan MT
Haryono melewati Bundaran Mbubakan lurus ke Kota Lama. Sedangkan jika kita dari
arah Barat menuju Mangkang masuk kota ke Kali Banteng setelah itu ada Bundaran
Tugu Muda melewati Jalan Pemuda belok kiri ke arah Pasar Johar, maju sedikit
sampai di Kota Lama. Salah satu ciri khas dari Kota Lama adalah alasnya dibuat bukan dari
aspal, namun dari paving blok agar mendapat kesan suasana tempo dulu.
Kini
seiring berjalannya waktu, walaupun bangunan di Kota Lama sebagian masih ada
yang terlihat kokoh dan indah namun tidak sedikit juga bangunan yang sudah
mulai rapuh dimakan usia, kayu jati yang menjadi penyangga bangunan pun sudah
banyak yang mengalami keropos, karena seringnya daerah Kota Lama ini terendam
banjir saat musim hujan. Ditambah lagi coretan – coretan anak muda Semarang
yang menghiasi dinding – dinding bangunan tua itu. Mungkin jika anak – anak
muda itu diberikan sosialisasi dari pemerintah setempat, mereka bisa
menyampaikan pesan yang ingin diungkapkan lewat gambar dengan baik, bukan asal
coret –coret di tempat yang mengandung nilai – nilai sejarah, yang tidak
mungkin bisa terulang kembali.
Walaupun,
kini Kota Lama tak seindah dulu lagi, namun
kita harus mengenang, merawat, dan yang paling penting adalah menjaga
kebersihan lingkungan di sekitar Kota Lama ini, karena dari sinilah bermula
Pusat Perdagangan yang pesat pada zamannya.
Kota Lama adalah salah satu aset berharga yang bisa dikembangkan untuk
menarik lebih banyak wisatawan lagi yang berkunjung ke Kota Lama ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar