Nabi
Nuh diutus ke tengah – tengah masyarakat yang
sedang menyembah berhala. Nabi Nuh orang yang cerdas dan sabar. Ia
mengajak kaumnya melihat alam semesta ciptaan Allah. Dakwah Nabi Nuh dilakukan siang dan malam . Baik secara
sembunyi –sembunyi maupun terang – terangan .Nabi Nuh berdakwah selama 500
tahun. Meski demikian pengikut umat Nabi
Nuh yang beriman hanya sedikit yaitu kurang
dari seratus orang. Umat Nabi Nuh banyak yang ingkar. Jika Nabi Nuh
mengajak beribadah kepada Allah dan menegakkan Tauhit, umatnya selalu menentang
dan mengejeknya.Pengikut Nabi Nuh kebanyakan fakirmiskin, sedang para
bangsawan,orang- orang kaya dan terpandang justru memusuhinya.
Pada
suatu ketika orang- orang kafir hendak menipu NabiNuh . Mereka mengatakan
bersedia mengikuti NabiNuh asalkan Nabi Nuh mau mengusir para pengikutnya yang
terdiri dari orang- orang miskin. Nabi Nuh dengan tegas menolak permintaan
orang – orang kafir itu.
Kecerdasan
dan kefasihanya Nabi Nuh mengalahkan segala hujah orang - orang kafir.Akhirnya orang – orang kafir
jengkel dan menantang Nabi Nuh.
“Hai
Nuh! Sesungguhnya kamu telah membantah
dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu kepada kami, maka
datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu
termasukorang – orang yang benar”.
Nabi
Nuh menjawab : “Hanya Allah yang akan
mendatangkan adzab itu kepadamu jika Dia menghendaki.Dan kamu sekali-kali tidak
akan dapat melepaskan diri. Tidaklah bermanfaat nasehatku kepadamu jika Allah
ternyata hendak menyesatkanmu, Dia adalah Tuhanmu. Dan kepada-Nya lah kamu
dikembalikan”.
Demikian
keterlaluan kaum nabi nuh itu megingkari ajaran
Tuhan. Mereka bahkan mengejek dan menghina nabi Nuh sebagai orang bodoh dan
gila. Nabi Nuh sebagai utusan Allah tetap melaksanakan tugasnya. Orang-orang
kafir makin keras menentang dakwah Nabi Nuh. Mereka mengancam Nabi Nuh “sungguh
jika kamu tidak mau berhenti berdakwah, maka kami akan merajammu
beramai-ramai”.
Setelah
dakwahnya menemukan jalan buntu, dan pengikutnya tidak bertambah Nabi Nuh
mengadukan kaumnya kepada tuhan. Nabi Nuh pun berdoa “Ya Tuhanku janganlah Engkau
biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir itu tinggal diatas permukaan
bumi. Sesungguhnya jika engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan
menyesatkan hamba-hamba -Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang
berbuat maksiat lagi sangat kafir”.
Allah
mengabulkan doa Nabi Nuh. Allah memberi petunjuk agar Nabi Nuh membuat perahu
yang sangat besar. Dengan perahu itu Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman akan
selamat. Sedang kaumnya yang ingkar akan ditenggelamkan dengan banjir yang
sangat besar, sehingga tak seorangpun diantara mereka yang selamat. Semua akan
binasa. Selagi Nabi Nuh dan kaumnya membuat perahu diatas bukit, kaumnya yang
ingkar mengolok-olok dan mengejeknya.
“Lihat!
Nuh semakin gila saja, masa kemarau panas begini membuat perahu, diatas bukit
lagi. Sungguh dia sudah miring otaknya”.
Diantara
mereka bahkan ada yang berani buang kotoran di dalam perahu yang belum selesai
dibuat itu. Akibat dari perbuatan itu perut mereka menjadi sakit, dan tak ada
satupun orang yang bisa menyembuhkannya. Dengan merengek-rengek mereka minta
Nabi Nuh untuk mengobatinya. Nabi Nuh hanya menyuruh mereka membersihkan kapal
yang mereka kotori. Setelah itu merekapun sembuh dari sakit perutnya. Mereka
tidak tahu bahwa yang memberi kesembuhan adalah Allah. Terbukti banyak orang kafir
yang sakit datang menjilati perahu itu sampai bersih.
Sesuai
dengan wahyu Allah, Nuh mengajak kaumnya memasuki kapal yang dibuat. Nabi Nuh
juga membawa berbagai pasang binatang dalam kapalnya itu. Tidak lama kemudian
sesudah Nabi Nuh dan pengikutnya memasuki kapal, maka langit yang tadinya cerah
berubah menjadi hitam. Mendung tampak tebal sekali diiringi angin kencang.
Hujan turun sangat lebat. Belum pernah ada hujan turun selebat itu, bagaikan
dicurahkan dari atas langit. Rumah-rumah mulai terendam air, angin kencang dan
badai menambah kepanikan semua orang. Dari jauh Nabi Nuh melihat putranya
Kan’an berlari menuju gunung. Nabi Nuh memanggil anaknya itu. “ Hai anakku!
Kemarilah! Naiklah ke kapal ku maka kamu akan selamat!”.
“Tidak!
Aku akan berlari ke atas bukit sana, aku pasti akan selamat!”, kata Kan’an.
Kata
Nabi Nuh : “Anakku! Pada hari ini tidak seorangpun dapat menyelamatkan diri
dari adzab Allah!”. Tapi Kan’an dengan sombongnya terus berlari. Ia tak
menghiraukan panggilan ayahnya. Ia mengira banjir besar itu hanya bencana alam
biasa yang segera reda, maka ia terus berlari mendaki puncank gunung. Kan’an
memang tidak mau mengikuti ajaran Nabi Nuh, ia lebih suka hidup dengan
orang-orang kafir, karena itu ia tak mau menumpang kapal Nabi Nuh.
Nabi
Nuh merasa sedih. Bagaimanapun Ka’an adalah putranya sendiri. Maka Ia berdoa
kepada Allah agar Kan’an diselamatkan. Nabi Nuh berseru kepada Tuhannya sambil
berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargku, dan sesungguhnyaa
janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim seadil-adilnya”.
Allah
berfirman : Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu(yang
dijanjikan akan akan diselamatkan) sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang
tidak baik.Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak
mengetahui hakikatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu
jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.
Nuh
berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon ke
sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak
memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku
termasuk orang-orang yang merugi.
Berdasarkan
suatu riwayat kapal yang membawa Nabi
Nuh dan para pengikutnya itu berlayar
selama 40 hari, sesudah itu banjir mereda dan Nabi Nuh diperintahkan turun dari
kapalnya. Sedang orang-orang kafir binasa tidak ada yang tertinggal termasuk
Kan’an putra Nabi Nuh.
Allah
berfirman : “Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan sejahtera dan penuh keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat
(yang mukmin) dari orang-orang yang bersamaku. Dan ada (pula) umat-umat yang
kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia) kemudian mereka akan
ditimpa adzab yang pedih dari kami.
Hikmah yang bisa
diambil dari cerita diatas adalah :
1.
Seorang ayah walaupun seorang yang sholih dari golongan ulama atau nabi tidak
akan bisa menolong anaknya atau kerabatnya yang durhaka dan kafir kepada Allah.
2.
Semua orang sama dalam pandangan Allah yang membedakan adalah ketakwaannya,
karena itu Nabi Nuh menolak permintaan orang-orang kaya yang kafir untuk
mengusir para pengikutnya, yang terdiri dari kaum yang lemah, miskin, dan tidak
berkedudukan tinggi.
3.
Kita hendaknya bersabar dan bertawakal dalam memperjuangkan agama Allah, karena
sekeras apapun tantangan yang kita hadapi Allah pasti menolong dan melindungi
kita.
Kisah Nabi Nuh dan
Kan’an
Sd negeri tlogoboyo 1
bonang demak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar