Sabtu, 23 Mei 2015

Kisah Nabi Nuh dan Kan’an




Nabi Nuh diutus ke tengah – tengah masyarakat yang  sedang menyembah berhala. Nabi Nuh orang yang cerdas dan sabar. Ia mengajak kaumnya melihat alam semesta ciptaan Allah. Dakwah Nabi Nuh  dilakukan siang dan malam . Baik secara sembunyi –sembunyi maupun terang – terangan .Nabi Nuh berdakwah selama 500 tahun. Meski  demikian pengikut umat Nabi Nuh yang beriman hanya sedikit yaitu kurang  dari seratus orang. Umat Nabi Nuh banyak yang ingkar. Jika Nabi Nuh mengajak beribadah kepada Allah dan menegakkan Tauhit, umatnya selalu menentang dan mengejeknya.Pengikut Nabi Nuh kebanyakan fakirmiskin, sedang para bangsawan,orang- orang kaya dan terpandang  justru memusuhinya.
Pada suatu ketika orang- orang kafir hendak menipu NabiNuh . Mereka mengatakan bersedia mengikuti NabiNuh asalkan Nabi Nuh mau mengusir para pengikutnya yang terdiri dari orang- orang miskin. Nabi Nuh dengan tegas menolak permintaan orang – orang kafir itu.
Kecerdasan dan kefasihanya Nabi Nuh mengalahkan segala hujah orang  - orang kafir.Akhirnya orang – orang kafir jengkel dan menantang Nabi Nuh.
“Hai Nuh! Sesungguhnya kamu telah  membantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu kepada kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasukorang – orang yang benar”.
Nabi Nuh menjawab : “Hanya Allah yang  akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Dia menghendaki.Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri. Tidaklah bermanfaat nasehatku kepadamu jika Allah ternyata hendak menyesatkanmu, Dia adalah Tuhanmu. Dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.
Demikian keterlaluan kaum nabi nuh itu megingkari ajaran Tuhan. Mereka bahkan mengejek dan menghina nabi Nuh sebagai orang bodoh dan gila. Nabi Nuh sebagai utusan Allah tetap melaksanakan tugasnya. Orang-orang kafir makin keras menentang dakwah Nabi Nuh. Mereka mengancam Nabi Nuh “sungguh jika kamu tidak mau berhenti berdakwah, maka kami akan merajammu beramai-ramai”.
Setelah dakwahnya menemukan jalan buntu, dan pengikutnya tidak bertambah Nabi Nuh mengadukan kaumnya kepada tuhan. Nabi Nuh pun berdoa “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir itu tinggal diatas permukaan bumi. Sesungguhnya jika engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba -Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir”.
Allah mengabulkan doa Nabi Nuh. Allah memberi petunjuk agar Nabi Nuh membuat perahu yang sangat besar. Dengan perahu itu Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman akan selamat. Sedang kaumnya yang ingkar akan ditenggelamkan dengan banjir yang sangat besar, sehingga tak seorangpun diantara mereka yang selamat. Semua akan binasa. Selagi Nabi Nuh dan kaumnya membuat perahu diatas bukit, kaumnya yang ingkar mengolok-olok dan mengejeknya.
“Lihat! Nuh semakin gila saja, masa kemarau panas begini membuat perahu, diatas bukit lagi. Sungguh dia sudah miring otaknya”.
Diantara mereka bahkan ada yang berani buang kotoran di dalam perahu yang belum selesai dibuat itu. Akibat dari perbuatan itu perut mereka menjadi sakit, dan tak ada satupun orang yang bisa menyembuhkannya. Dengan merengek-rengek mereka minta Nabi Nuh untuk mengobatinya. Nabi Nuh hanya menyuruh mereka membersihkan kapal yang mereka kotori. Setelah itu merekapun sembuh dari sakit perutnya. Mereka tidak tahu bahwa yang memberi kesembuhan adalah Allah. Terbukti banyak orang kafir yang sakit datang menjilati perahu itu sampai bersih.
Sesuai dengan wahyu Allah, Nuh mengajak kaumnya memasuki kapal yang dibuat. Nabi Nuh juga membawa berbagai pasang binatang dalam kapalnya itu. Tidak lama kemudian sesudah Nabi Nuh dan pengikutnya memasuki kapal, maka langit yang tadinya cerah berubah menjadi hitam. Mendung tampak tebal sekali diiringi angin kencang. Hujan turun sangat lebat. Belum pernah ada hujan turun selebat itu, bagaikan dicurahkan dari atas langit. Rumah-rumah mulai terendam air, angin kencang dan badai menambah kepanikan semua orang. Dari jauh Nabi Nuh melihat putranya Kan’an berlari menuju gunung. Nabi Nuh memanggil anaknya itu. “ Hai anakku! Kemarilah! Naiklah ke kapal ku maka kamu akan selamat!”.
“Tidak! Aku akan berlari ke atas bukit sana, aku pasti akan selamat!”, kata Kan’an.
Kata Nabi Nuh : “Anakku! Pada hari ini tidak seorangpun dapat menyelamatkan diri dari adzab Allah!”. Tapi Kan’an dengan sombongnya terus berlari. Ia tak menghiraukan panggilan ayahnya. Ia mengira banjir besar itu hanya bencana alam biasa yang segera reda, maka ia terus berlari mendaki puncank gunung. Kan’an memang tidak mau mengikuti ajaran Nabi Nuh, ia lebih suka hidup dengan orang-orang kafir, karena itu ia tak mau menumpang kapal Nabi Nuh.
Nabi Nuh merasa sedih. Bagaimanapun Ka’an adalah putranya sendiri. Maka Ia berdoa kepada Allah agar Kan’an diselamatkan. Nabi Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargku, dan sesungguhnyaa janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim seadil-adilnya”.
Allah berfirman : Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu(yang dijanjikan akan akan diselamatkan) sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik.Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakikatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.
Nuh berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon ke sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.
Berdasarkan suatu riwayat kapal yang membawa Nabi Nuh dan para pengikutnya itu  berlayar selama 40 hari, sesudah itu banjir mereda dan Nabi Nuh diperintahkan turun dari kapalnya. Sedang orang-orang kafir binasa tidak ada yang tertinggal termasuk Kan’an putra Nabi Nuh.
Allah berfirman : “Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan sejahtera dan penuh  keberkatan dari kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamaku. Dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia) kemudian mereka akan ditimpa adzab yang pedih dari kami.


Hikmah yang bisa diambil dari cerita diatas adalah :
1. Seorang ayah walaupun seorang yang sholih dari golongan ulama atau nabi tidak akan bisa menolong anaknya atau kerabatnya yang durhaka dan kafir kepada Allah.
2. Semua orang sama dalam pandangan Allah yang membedakan adalah ketakwaannya, karena itu Nabi Nuh menolak permintaan orang-orang kaya yang kafir untuk mengusir para pengikutnya, yang terdiri dari kaum yang lemah, miskin, dan tidak berkedudukan tinggi.
3. Kita hendaknya bersabar dan bertawakal dalam memperjuangkan agama Allah, karena sekeras apapun tantangan yang kita hadapi Allah pasti menolong dan melindungi kita.










Kisah Nabi Nuh dan Kan’an


Sd negeri tlogoboyo 1 bonang demak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar